


Cap kaki. Sebelumnya, dokter memprediksi kalau saya akan melahirkan pada 13 Maret 2010. Namun, pas di hari H-nya, saya belum merasakan tanda-tanda akan memberojol. Akhirnya, dokter menyarankan untuk induksi. Alhamdulillah, bayi saya dan beib lahir sehat pada pukul 22.33 dengan berat 3,2 kg dan panjang 50 cm. Beberapa saat setelah lahir, kakinya pun di cap. Mungilnya…
Hehehe…belakangan, saya suka membaca status twitter teman-teman saya di kantor. Hingga suatu ketika, ada satu pesan yang masuk ke akun saya. Tulisannya begini:
“Kalau saya hamil, saya mau jadi seperti @itarafie… Dia ceria sekali…. :)” post by @diaderivaa
Wah..wah… saya jadi tersandung-sandung membacanya. Sekaligus pengen tertawa. Riva atau biasa dipanggil ipeh merupakan teman saya di kantor. Kami cukup dekat karena sering membicarakan kelakuan orang-orang di kantor kami… *lagak kami memang seperti orang yang paling oke di kantor*
Ipeh memang acapkali bertanya, apa rahasia hamil saya sehingga tidak moody dan emosional. Hah? Saya gak bisa menjawabnya.
Sebab, terkadang, saya bisa menjadi sangat emosional sekali. Pernah belum lama ini, saya menonton acara di Indonesia berjudul “America’s Got Talent”. Acaranya seru dan lucu sekali.
Saat itu, saya terharu melihat perjuangan sepasang suami istri yang menontonkan aksi ilusi. Aksi mereka hebat sekali. Sampai-sampai tiga juri yang menonton memberikan standing applause.
Saya sendiri bisa-bisanya terharu sampai mengeluarkan air mata. Tidak sampai disitu, saya langsung menjadi sedih. Kebetulan di rumah hanya saya sendiri karena beib sedang pergi. Dari sejak menonton aksi itu, saya menangis sendirian di depan TV selama kurang lebih 10 menit.
Saya sendiri bingung kenapa saya bisa tersedu-sedu seperti itu. Hanya saja, memang, saat itu saya juga mengenang kisah-kisah sedih yang pernah saya alami sebelumnya.
Benar-benar lucu ya… So, ipeh… Are you sure want to be like me???!

Suatu malam, sehabis pulang kantor, beib mengajak saya untuk menemaninya mencukur rambut. Biasanya, beib punya tukang cukur langganan di daerah Cidodol dekat penjual sate padang langganan kami. Tapi entah kenapa, malam itu beib mengajak saya untuk pergi ke tukang cukur rambut dekat rumah. Saya sempat mengabadikan momen cukur mencukur itu. Lucunya, tukang cukur ini punya tiga tarif yang ditentukan. Dewasa: Rp 7.000, Anak-anak: Rp 5.000, dan terakhir Jenggot: Rp 3.000. Hahahaha…

Falah, keponakan saya dari Bali, datang ke Jakarta. Dia akan tinggal bersama orangtua saya untuk beberapa waktu sambil menjalani terapi. Nah, weekend kemarin, saya menemaninya selama beberapa jam. Rupanya, Falah suka mewarnai. Sama seperti kembarannya Falih yang dulu juga sempat tinggal di Kebon Jeruk selama tiga bulan. Meski belum mau bicara, tapi Falah sudah berkomunikasi dengan saya. Dia menarik tangan saya agar menggambar binatang di kertas. Setelah saya selesai, baru dia yang mewarnai. Nanti kita mewarnai lagi ya, Falah…

Sendirian di rumah membuat saya kreatif. Saya mengabadikan sendiri foto kehamilan saya yang saat ini hampir menginjak delapan bulan. Dengan menggunakan kamera pocket Cannon dan berbekal pelajaran “timer” dari Black, saya melakukannya semuanya sendirian. Mulai jadi model, pengarah gaya, penata cahaya, penata kostum, sampai fotografer. Hasilnya? Gak mengecewakan kan? :)

Meski bentuknya gak keruan, rasanya cukup lezat. Benar-benar seperti es krim sungguhan rasa coklat. Ini es krim buatan rumah. Hasil kreasi saya dengan beib pada waktu weekend kemarin.
Sebenarnya, ada cerita lucu dibalik pembuatan es krim ini. Waktu berbelanja di salah satu suoermarket di Depok, saya melihat ada es krim mentahan yang belum jadi. Cara membuatnya cukup gampang. Yakni, dengan hanya menambahkan air dingin secukupnya dan diaduk.
Karena saya dan beib penggemar es krim, saya pun membelinya. Hanya saja, setibanya di rumah, ada sedikit masalah. Menurut petunjuk pembeliannya, untuk mengaduk es krim, dibutuhkan mixer. Kalau tidak ada, bisa dikocok dengan menggunakan tangan sekuat mungkin hingga merata.
Saya pun langsung melirik beib dan membacakan petunjuk pembuatan es krim keras-keras. Beib langsung bereaksi. “Hah? mau gempor?” sungutnya. Saya pun tertawa.
Akhirnya, beib pun membelikan saya sebuah mixer. Kami membelinya di Carrefour Mall of Indonesia pada saat berjalan-jalan dengan blackibo.
Pulangnya, es krim pun dibuat. Beib yang paling bersemangat. Bahkan kami mengganti air putih dingin menjadi susu cair low fat untuk mendapatkan hasil es krim yang kental dan padat. Setelah diaduk sampai rata dengan mixer baru, es krim dibekukan di freezer antara 4-5 jam.
Hasilnya tidak mengecewakan. Mmmm, kian lezat dengan tambahan batangan twister…